Home » Alumni FISIP Unpas Bangun Kafe di Pelosok Desa

Alumni FISIP Unpas Bangun Kafe di Pelosok Desa

by admin
Alumni Fisip Unpas

SuaraKampus – Siapa sangka, berawal dari hobi kulinernya semasa kuliah, alumni FISIP Unpas (Universitas Pasundan), Andri Bastian Suherman kini sukses mengembangkannya menjadi bisnis yang potensial.

Alumni yang akrab disapa Andri ini mendirikan kafe bernuansa retro di kawasan pedesaan, tepatnya di Desa Sukapura, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Di daerah tersebut, belum ada tongkrongan untuk anak muda, sementara akses menuju kota terbilang jauh.

“Di Bandung dan kota-kota besar sudah menjamur sekali kafe yang interiornya bagus dan nyaman. Tapi di sini jarang, bahkan tidak ada. Melihat peluang itu, saya terpikir untuk membuka kafe, memfasilitasi berbagai kalangan agar tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk sekadar nongkrong,” katanya, seperti dilansir laman Unpas Sabtu (17/7/2021).

Andri menamai kafenya dengan Waroeng Baceprot, kosa kata bahasa Sunda yang artinya banyak bicara. Dipilihnya nama tersebut rupanya bukan tanpa alasan.  Sebagai lulusan Ilmu Komunikasi, ia ingin konsumen yang datang ke kedainya saling berinteraksi dan meramaikan suasana.

Baceprot sendiri sebenarnya pelesetan dari bahasa yang saya gunakan untuk mengobrol dengan teman-teman di Bandung. Arahnya tentu lebih ke komunikasi, karena tidak mungkin konsumen berkunjung tanpa melakukan interaksi. Di sisi lain, namanya juga cenderung mudah diingat dan menarik perhatian,” tuturnya.

Sejak awal dirintis pada 2018, ia mengandalkan Facebook sebagai media promosi. Gayung bersambut, masyarakat ternyata sangat antusias dan sampai saat ini Waroeng Baceprot sudah memiliki konsumen loyal.

“Berbeda dengan masyarakat di perkotaan yang mayoritas sudah beralih ke Instagram, di sini 90 persen masih menggunakan Facebook. Oleh karena itu, saya galakkan promosi di Facebook dengan highlight penataan tempat yang cozy, estetik, dan berkonsep inovatif,” tambahnya.

Kafenya menawarkan ragam olahan kopi sebagai menu andalan. Harga yang dipatok juga terjangkau, mulai dari 10-25 ribu rupiah saja. Kendati demikian, bahan baku yang digunakan tetap berkualitas untuk menjaga cita rasa.

Karena berada di pedesaan, terdapat beberapa menu yang kurang familiar di telinga konsumen. Menu-menu yang dianggap mainstream di kota justru menarik bagi mereka. Menurut Andri, ketimbang tampilan dan komposisi bahan, konsumen di desa jauh lebih tertarik dengan menu yang porsinya banyak.

Bagi Andri, bisnis tidak hanya soal menghasilkan keuntungan. Lebih dari itu, ia bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda di daerahnya sekaligus membangun desa melalui inovasi-inovasi yang sejalan dengan pola pikir milenial.

“Prinsip saya, putra daerah kalau tidak menetap di kota, pasti akan pulang ke tempat asalnya. Ini yang menjadi acuan saya. Kira-kira apa yang bisa saya berikan dan menjadi manfaat untuk tempat kelahiran saya. Alhamdulillah, dengan keyakinan yang matang, saya bisa mempekerjakan tiga orang karyawan dan Insya Allah ada rencana untuk membuka booth atau cabang di kecamatan lain,” ujarnya.

Ia selalu menekankan kepada karyawannya agar mengedepankan sikap profesional. Ia berusaha membentuk karakter pekerja yang disiplin, aktif, dan inisiatif agar tercipta etos kerja yang tinggi.

“Saya menerapkan SOP dan mengingatkan mereka untuk mengesampingkan kepentingan pribadi di atas urusan pekerjaan. Kendalikan suasana hati agar tidak memengaruhi pelayanan kepada konsumen. Dengan begitu, konsumen akan tertarik untuk kembali lagi, bukan hanya karena menu dan tempatnya, tapi juga keramahan karyawannya,” jelas Andri.

Andri juga mengajak milenial yang mempunyai passion untuk tidak ragu memulai bisnisnya. Buktinya, bermula dari hobi, ia bisa membuka kafe dan mengembangkan potensi desanya.

“Teman-teman yang memiliki hobi atau passion di bidang tertentu, punya konsep, strategi, inovasi, dan bisa melihat peluang, jangan takut untuk memulai. Kalau hanya berandai-andai, kapan mau mulai? Saya juga sambil berjalan, terus berkembang dan mengikuti tren. Risiko pasti ada, yang penting jalani saja dulu dan jangan setengah-setengah. Wujudkan ekspektasi kalian,” tutupnya. (Reta)*

Baca juga

Leave a Comment