SuaraKampus.ID – Di pojok sebuah laboratorium di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, tumpukan tutup botol plastik berwarna-warni biasanya hanya dianggap sebagai limbah yang menanti antrean menuju tempat pembuangan akhir. Namun, di tangan sekelompok mahasiswa kreatif dari Kampus Hijau ini, sampah-sampah tersebut tidak sedang menunggu ajal. Mereka sedang dipersiapkan untuk menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah kesempatan kedua bagi mereka yang kehilangan langkah.
Inovasi ini lahir dari kegelisahan. Di tengah mahalnya harga alat bantu kesehatan, khususnya kaki prostetik yang bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah, mahasiswa UIN Bandung melihat celah untuk berbuat sesuatu. Mereka tidak menggunakan karbon fiber atau logam mahal, melainkan polimer dari tutup botol bekas berjenis High-Density Polyethylene (HDPE).
Dari Limbah Menjadi Penopang Tubuh
Perjalanan menciptakan kaki prostetik ini bukanlah proses semalam. Para mahasiswa yang tergabung dalam tim riset ini harus berjibaku dengan mesin pencacah, pemanas, hingga cetakan presisi. Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan ribuan tutup botol. Sampah yang kerap disepelekan ini dipilih karena karakteristik plastiknya yang kuat, tahan lama, namun tetap memiliki fleksibilitas yang dibutuhkan untuk menopang berat badan manusia.
“Kami ingin menciptakan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga ramah di kantong masyarakat kecil,” ujar salah satu anggota tim saat mendemonstrasikan hasil karyanya.
Tutup botol yang telah dibersihkan dicacah menjadi serpihan kecil, kemudian dilelehkan dalam suhu tertentu untuk dicetak menjadi komponen-komponen kaki buatan. Hasilnya mengejutkan. Meski berasal dari bahan daur ulang, durabilitas kaki prostetik ini mampu bersaing dengan produk pabrikan, namun dengan biaya produksi yang jauh lebih murah.
Sentuhan Kemanusiaan di Balik Teknologi
Apa yang membuat narasi ini begitu kuat bagi suarakampus.id bukan sekadar kecanggihan teknisnya, melainkan sisi kemanusiaannya. Inovasi ini adalah manifestasi dari nilai-nilai keislaman yang progresif—bahwa ilmu pengetahuan harus memberi manfaat nyata bagi sesama.
Bagi seorang penyandang disabilitas dari keluarga prasejahtera, kehilangan kaki bukan hanya soal hilangnya mobilitas, tapi sering kali berarti hilangnya mata pencaharian. Dengan adanya kaki prostetik dari tutup botol ini, harapan untuk kembali mandiri kini bukan lagi mimpi yang mahal.
UIN Bandung, melalui para mahasiswanya, sedang menunjukkan bahwa universitas bukan sekadar menara gading. Laboratorium bukan hanya tempat menguji rumus, tapi tempat meramu solusi atas persoalan sosial dan lingkungan secara bersamaan.
Tantangan ke Depan
Meski telah berhasil menciptakan prototipe yang fungsional, perjalanan masih panjang. Tim inovator ini masih terus melakukan penyempurnaan pada desain agar lebih ergonomis dan estetis. Mereka juga berharap adanya dukungan lebih luas, baik dari pihak kampus maupun pemerintah, agar produk ini bisa diproduksi secara massal dan didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan.
Kisah ini adalah pengingat bagi kita semua di lingkungan kampus. Bahwa sering kali, jawaban dari masalah besar dunia tidak ditemukan di tempat yang jauh. Terkadang, ia tersembunyi di balik tutup botol yang kita buang pagi tadi, menunggu tangan-tangan kreatif untuk mengubahnya menjadi sebuah keajaiban.
Di UIN Sunan Gunung Djati, langkah kaki masa depan itu sedang mulai dirajut—satu tutup botol dalam satu waktu.
- Kisah Tim Magna Energy Unhas Mengubah Wajah Energi Kepulauan
- Rahasia Dapur dari Kampus Biru, Menanam Harapan di Tengah Riuh Itik Kediri
- Membangun Karir Sejak Kuliah, Rahasia Lulusan “Siap Pakai” Tanpa Menunggu Wisuda
- Mengirim Kabut ke “Rumah” Jamur, Inovasi Cerdas Tim ITERA di Karang Anyar
- Menenun Harapan Lewat Kaki Prostetik Tutup Botol
- Perjuangan Dea Rodiah Lutfi, Lulus Kuliah 3,5 Tahun dengan IPK 3,90 Sambil Mengasuh Anak
