SuaraKampus.ID – Di sebuah sudut Desa Karang Anyar, Lampung Selatan, deretan rak kayu di dalam bangunan bambu yang lembap—biasa disebut kumbung—menjadi saksi bisu sebuah transformasi. Di sana, ribuan baglog jamur tiram berjejer rapi, menanti sentuhan air untuk tetap tumbuh subur. Namun, bagi Tugi dan Kelompok Pemuda Mandiri Kepung Seto, rutinitas menyiram jamur secara manual bukan lagi menjadi beban yang menguras tenaga dan waktu.
Sejak kehadiran tim dosen dan mahasiswa dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA), suasana di dalam kumbung jamur milik Tugi berubah. Tidak ada lagi percikan air kasar dari selang biasa. Sebagai gantinya, embun halus serupa kabut pegunungan menyelimuti ruangan secara otomatis, menjaga kelembapan pada level yang presisi.
Sentuhan Teknologi di Tangan Pemuda
Inovasi ini lahir dari tangan dingin tim pengabdian masyarakat ITERA yang dipimpin oleh Purwono Prasetyawan, S.T., M.T., dosen Teknik Elektro. Bersama kolega lintas disiplin, Raizummi Fil’aini, S.T.P., M.Si. (Teknik Biosistem) dan Ilham Firman Ashari, S.Kom., M.T. (Teknik Informatika), mereka merancang sistem pengkabutan otomatis yang dirancang khusus untuk kebutuhan petani jamur lokal.
Sistem ini bukanlah sekadar mesin penyiram. Inti dari inovasi ini terletak pada penggunaan digital timer cerdas yang mengatur denyut pompa air bertekanan tinggi. Air didorong melalui selang khusus menuju nozzle stainless anti-karat yang dipasang mengelilingi rak jamur. Hasilnya? Air pecah menjadi partikel kabut halus yang mampu menjangkau setiap sudut baglog tanpa membuatnya terlalu basah atau membusuk.
“Kami tidak hanya memasang alat, tapi juga mendampingi warga untuk memahami cara kerjanya, terutama dalam mengatur digital timer agar sesuai dengan kebutuhan suhu lingkungan,” ujar Purwono saat menjelaskan mekanisme alat tersebut.
Kolaborasi di Tengah Kumbung
Proyek yang didanai oleh Kemdikbud-Ristek tahun anggaran 2023 ini juga menjadi panggung belajar bagi mahasiswa. Enam mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro—Muhammad Rizqi Rahmatullah, Japar Sodik, Ayu Sholeha, Miftah Faridh Andrew, Priseputra Djayanasastra, dan Denia Aldi Saputra—terjun langsung ke lapangan. Mereka tidak hanya merakit kabel dan selang, tetapi juga berinteraksi dengan dinamika masyarakat desa.
Bagi mahasiswa, ini adalah implementasi nyata dari teori-teori di ruang kuliah. Bagi warga Karang Anyar, ini adalah harapan baru untuk efisiensi produksi.
Tugi, Ketua Kelompok Pemuda Mandiri Kepung Seto, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, teknologi ini adalah “napas baru” bagi kelompok pemuda di desanya untuk terus mandiri secara ekonomi.
“Kami sangat berterima kasih kepada tim ITERA. Sistem ini sangat membantu kami menjaga kualitas jamur tanpa harus standby setiap saat untuk menyiram manual. Kami berharap inovasi seperti ini bisa terus berlanjut,” ungkap Tugi dengan penuh harap.
Menuju Pertanian Modern
Penerapan sistem pengkabutan ini membuktikan bahwa teknologi tinggi tidak selamanya harus rumit dan mahal. Dengan komponen yang awet dan pemilihan material yang tepat—seperti selang tekanan tinggi anti-lumut—sistem ini dirancang untuk bertahan lama di lingkungan kumbung yang ekstrem.
Kini, setiap kali kabut halus mulai memenuhi ruangan kumbung di Karang Anyar, ada cerita tentang kolaborasi antara kampus dan masyarakat yang sedang mekar. Di sana, jamur-jamur tiram tumbuh lebih baik, seiring dengan tumbuhnya semangat inovasi di tangan pemuda desa.
Dari Karang Anyar, ITERA menunjukkan bahwa solusi atas masalah pangan dan kemandirian ekonomi seringkali bermula dari sebuah ide sederhana yang diwujudkan melalui kerja keras dan kepedulian.
- Kisah Tim Magna Energy Unhas Mengubah Wajah Energi Kepulauan
- Rahasia Dapur dari Kampus Biru, Menanam Harapan di Tengah Riuh Itik Kediri
- Membangun Karir Sejak Kuliah, Rahasia Lulusan “Siap Pakai” Tanpa Menunggu Wisuda
- Mengirim Kabut ke “Rumah” Jamur, Inovasi Cerdas Tim ITERA di Karang Anyar
- Menenun Harapan Lewat Kaki Prostetik Tutup Botol
- Perjuangan Dea Rodiah Lutfi, Lulus Kuliah 3,5 Tahun dengan IPK 3,90 Sambil Mengasuh Anak
