SuaraKampus.ID – Mentari belum terlalu tinggi di atas langit Kecamatan Kepung, Kediri, namun suara riuh ribuan itik pedaging sudah memecah kesunyian. Bagi warga setempat, suara ini adalah simfoni ekonomi. Namun, di balik keriuhan itu, para peternak menyimpan kecemasan yang serupa: harga pakan komersial yang kian mencekik, sementara pertumbuhan bobot itik sering kali tak sesuai ekspektasi.
Kegelisahan inilah yang membawa tim pakar dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) menempuh perjalanan dari Malang menuju Kediri. Mereka tidak datang dengan tangan hampa. Di dalam tas mereka, tersimpan sebuah inovasi yang mereka sebut sebagai “pakan tambahan” atau feed additive—sebuah ramuan sains yang dirancang untuk mengubah nasib para peternak itik.
Menembus Batas Laboratorium
Selama ini, riset-riset canggih seringkali hanya berakhir menjadi tumpukan kertas di rak perpustakaan. Namun, tim Fapet UB ingin memutus rantai itu. Di hadapan Kelompok Ternak Itik di Kediri, para akademisi ini mengubah bahasa laboratorium yang rumit menjadi percakapan hangat di teras rumah.
Inovasi yang diperkenalkan bukanlah pakan utama, melainkan suplemen khusus berbasis bahan alami dan mineral. Tujuannya sederhana namun krusial: mengoptimalkan sistem pencernaan itik agar setiap gram pakan yang dimakan benar-benar berubah menjadi daging, bukan sekadar limbah.
“Masalah utama peternak adalah efisiensi. Dengan pakan tambahan ini, kita mencoba memacu pertumbuhan itik lebih cepat namun dengan biaya yang tetap terkendali,” ujar salah satu anggota tim saat memberikan penjelasan teknis kepada para peternak yang tampak antusias.
Meramu Bahan Lokal, Menuai Bobot Maksimal
Keunggulan dari inovasi Fapet UB ini terletak pada pemanfaatan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan mudah dijangkau. Ramuan ini mengandung kombinasi probiotik, herbal, dan mineral esensial yang berfungsi meningkatkan imunitas sekaligus memperbaiki konversi pakan (Feed Conversion Ratio).
Dalam sesi sosialisasi tersebut, suasana berubah menjadi ruang kelas terbuka. Para mahasiswa yang turut mendampingi dosen tampak sibuk mendemonstrasikan cara pencampuran pakan tambahan ke dalam ransum harian itik. Tidak ada sekat antara profesor dan peternak tradisional; yang ada hanyalah pertukaran ilmu demi satu tujuan: itik yang lebih sehat dan kantong peternak yang lebih tebal.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Kesejahteraan
Bagi para peternak di Kecamatan Kepung, kehadiran tim UB adalah angin segar. Selama ini, mereka seringkali terjebak dalam pola beternak konvensional yang sangat bergantung pada fluktuasi harga pakan pabrikan.
Dengan penerapan teknologi pakan tambahan ini, masa panen itik diharapkan bisa menjadi lebih singkat. Jika biasanya itik membutuhkan waktu lama untuk mencapai bobot ideal, kini target itu bisa dicapai lebih cepat tanpa mengurangi kualitas daging. Efisiensi waktu ini secara otomatis akan memangkas biaya operasional—sebuah kemenangan kecil bagi ekonomi kerakyatan.
Dari Kampus untuk Bangsa
Langkah Fapet UB di Kediri adalah pengingat bahwa kampus harus menjadi mercusuar bagi masyarakat di sekitarnya. Inovasi pakan itik ini bukan hanya soal urusan perut unggas, melainkan soal bagaimana ilmu pengetahuan turun ke bumi dan menyentuh tangan-tangan kasar para pejuang pangan di desa.
Saat tim UB berpamitan pulang, keriuhan itik di Kepung masih terdengar sama. Namun, bagi para peternak, suara itu kini terdengar lebih optimis. Mereka tidak lagi hanya memberi makan itik dengan jagung dan dedak, tapi juga dengan harapan yang diracik dari laboratorium kampus biru.
- Kisah Tim Magna Energy Unhas Mengubah Wajah Energi Kepulauan
- Rahasia Dapur dari Kampus Biru, Menanam Harapan di Tengah Riuh Itik Kediri
- Membangun Karir Sejak Kuliah, Rahasia Lulusan “Siap Pakai” Tanpa Menunggu Wisuda
- Mengirim Kabut ke “Rumah” Jamur, Inovasi Cerdas Tim ITERA di Karang Anyar
- Menenun Harapan Lewat Kaki Prostetik Tutup Botol
- Perjuangan Dea Rodiah Lutfi, Lulus Kuliah 3,5 Tahun dengan IPK 3,90 Sambil Mengasuh Anak
