SuaraKampus.ID – Di tengah deburan ombak Selat Madura, Pulau Gili Ketapang di Probolinggo selama ini menggantungkan “napas” energinya pada deru mesin diesel. Mahalnya biaya bahan bakar dan ancaman polusi bagi ekosistem laut menjadi kawan akrab yang terpaksa diterima warga. Namun, pada Senin, 22 Desember 2025, sebuah babak baru dimulai—bukan melalui proyek infrastruktur raksasa yang kaku, melainkan lewat gagasan segar tiga mahasiswa dari Universitas Hasanuddin (Unhas).
Gagasan itu sederhana namun revolusioner: mengubah permukaan laut dan keramba nelayan menjadi sumber listrik bersih. Inovasi yang lahir di laboratorium kampus di Makassar kini resmi diadopsi oleh PT PLN (Persero) untuk menerangi kehidupan masyarakat Gili Ketapang.
Simbiosis di Atas Keramba
Semua bermula dari keresahan Diego Agung Christovano Paranoan (Teknik Sipil 2022), Nabiyl Ahmad Fawzy M. (Teknik Elektro 2024), dan Arfansyah (Kimia 2022). Di bawah bendera Tim Magna Energy, mereka melihat ruang laut yang luas sebagai potensi yang terbuang.
Inovasi mereka adalah sistem Panel Surya Terapung yang dipasang tepat di atas keramba jaring apung milik nelayan. Mereka menyebutnya konsep “Simbiosis”. Di sini, teknologi tidak melawan alam, melainkan bekerja sama dengannya. Panel surya memberikan keteduhan bagi ikan-ikan di bawahnya, sementara air laut di bawah keramba berfungsi sebagai pendingin alami yang menjaga performa panel surya tetap optimal.
“Kami prihatin melihat ketergantungan pulau-pulau kecil pada diesel yang mahal dan merusak laut. Melalui solusi ini, kami ingin energi bersih hadir tanpa harus memakan ruang daratan yang terbatas,” ujar Diego, yang juga merupakan Mahasiswa Berprestasi Unhas 2025.
Dari Hackathon Menuju Implementasi Nyata
Ide brilian ini tidak berhenti di atas kertas skripsi. Perjalanan mereka mencapai puncaknya saat meraih gelar Juara Utama pada ajang Youth Energy Hackathon 2025 yang digelar oleh ECADIN dan Kedutaan Besar Belanda pada November lalu. Dengan dana hibah sebesar Rp250 juta, ide tersebut “turun ke bumi” dan bertransformasi menjadi instalasi nyata.
Tak tanggung-tanggung, sistem ini dilengkapi dengan kontrol cerdas dan penyimpanan energi berbasis hidrogen—sebuah teknologi mutakhir yang menjamin kestabilan pasokan listrik, baik saat matahari terik maupun di tengah kegelapan malam.
Melihat potensi besar ini, PT PLN (Persero) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) memutuskan untuk mengadopsi sistem ini secara penuh. Peresmian di Gili Ketapang menjadi bukti nyata bahwa riset mahasiswa bukan hanya untuk penghias rak perpustakaan, melainkan solusi nyata bagi kedaulatan energi nasional.
Kebanggaan dari Kampus Merah
Direktur Kemahasiswaan Unhas, Abdullah Sanusi, Ph.D., yang hadir langsung di lokasi peresmian, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, keberhasilan Tim Magna Energy adalah bukti bahwa ekosistem inovasi di Unhas telah berjalan di jalur yang tepat.
“Adopsi ini menunjukkan bahwa gagasan yang lahir dari kampus mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan. Kami mendorong mahasiswa untuk terus menghadirkan inovasi yang solutif, aplikatif, dan berdampak sosial,” tegasnya.
Kini, saat malam tiba di Gili Ketapang, ada cahaya yang bersinar lebih jernih. Cahaya itu datang dari matahari yang disimpan di siang hari, diolah oleh tangan-tangan kreatif mahasiswa Unhas, dan didistribusikan melalui visi besar PLN. Sebuah bukti bahwa kolaborasi antara kampus, industri, dan komunitas adalah kunci menuju Indonesia yang lebih hijau.
- Kisah Tim Magna Energy Unhas Mengubah Wajah Energi Kepulauan
- Rahasia Dapur dari Kampus Biru, Menanam Harapan di Tengah Riuh Itik Kediri
- Membangun Karir Sejak Kuliah, Rahasia Lulusan “Siap Pakai” Tanpa Menunggu Wisuda
- Mengirim Kabut ke “Rumah” Jamur, Inovasi Cerdas Tim ITERA di Karang Anyar
- Menenun Harapan Lewat Kaki Prostetik Tutup Botol
- Perjuangan Dea Rodiah Lutfi, Lulus Kuliah 3,5 Tahun dengan IPK 3,90 Sambil Mengasuh Anak
