SuaraKampus.ID – Bangku perkuliahan seringkali menjadi arena di mana idealisme dan realita bertarung. Bagi banyak mahasiswa, menyelesaikan studi tepat waktu saja sudah menjadi tantangan berat. Namun, bagi Dea Rodiah Lutfi, tantangan itu berlipat ganda. Ia tidak hanya bertarung dengan skripsi dan tenggat waktu, tetapi juga dengan peran ganda sebagai seorang istri dan ibu muda.
Dea, mahasiswa jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2019, membuktikan bahwa stereotip tentang pernikahan dini yang menghambat pendidikan tidak selamanya benar. Ia berhasil lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna: 3,90.
Keputusan Besar di Semester Tiga
Perjalanan Dea tidaklah lempeng. Dikenal sebagai sosok yang ambisius, tekun, dan selalu tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, Dea mengejutkan keluarga dan teman-temannya ketika memasuki semester tiga. Di usia yang masih sangat muda, 20 tahun, ia mengambil keputusan besar untuk menikah pada 5 September 2020.
Keputusan ini sempat menimbulkan kekhawatiran. Orang tuanya sempat berharap Dea menjadi sarjana terlebih dahulu sebelum membina rumah tangga. Ada ketakutan bahwa peran domestik akan mengubur mimpi akademisnya.
“Tadinya Mama mau Teteh jadi sarjana dulu… Tapi kan ini keputusan Dea, dia berani mengungkapkan ke semua anggota keluarga,” ujar ibunda Dea mengenang momen tersebut. Namun, Dea meyakinkan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utamanya meski statusnya berubah.
Mengerjakan UAS Pasca Melahirkan
Ujian terberat datang setahun kemudian. Di saat teman-temannya fokus belajar untuk Ujian Akhir Semester (UAS), Dea harus bertaruh nyawa di meja persalinan. Putra pertamanya lahir pada 21 Oktober 2021, tepat di tengah masa-masa sibuk perkuliahan.
Kisah yang paling menyentuh hati—dan mungkin terdengar mustahil bagi sebagian orang—adalah dedikasinya yang luar biasa pasca melahirkan. Dea melahirkan putranya sekitar pukul 12 malam. Namun, alih-alih beristirahat total, keesokan paginya ia sudah kembali membuka laptop di rumah sakit.
“Paginya tuh Dea UAS. Kebayang kan ya, baru melahirkan langsung ikutan UAS,” kenang sang suami yang menjadi saksi ketangguhan istrinya [06:24]. Momen ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya tekad Dea untuk tidak membiarkan kondisinya menjadi alasan ketertinggalan akademik.
Sidang Skripsi Sambil Memangku Anak
Menjalani peran ganda tentu bukan tanpa air mata. Dea mengaku sempat berada di titik terendah. Kelelahan fisik mengurus bayi, begadang, dan mengerjakan tugas membuatnya sempat ingin menyerah. Ia bahkan pernah mengajukan izin untuk cuti kuliah karena merasa tidak sanggup membagi waktu.
Namun, dukungan dari suami, orang tua, dan dosen pembimbing menguatkan langkahnya. Ia diingatkan bahwa masalahnya hanya pada manajemen waktu, bukan kemampuan. Dea kembali bangkit dengan prinsip bahwa “perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”.
Pemandangan Dea mengerjakan tugas sambil mengasuh anak menjadi makanan sehari-hari. Puncaknya, dalam beberapa kesempatan presentasi hingga sidang skripsi, ia melaluinya dengan sang anak berada di pangkuannya.
Buah Manis Perjuangan
Segala lelah itu terbayar lunas. Pada Wisuda ke-92 UIN Bandung, Dea berdiri tegak sebagai wisudawan inspiratif. Ia tidak hanya lulus cepat (3,5 tahun), tetapi juga meraih predikat Cum Laude dengan IPK 3,90.
Kisah Dea Rodiah Lutfi mengajarkan kita bahwa keterbatasan seringkali hanya ada di pikiran. Menjadi istri dan ibu bukanlah akhir dari mimpi seorang perempuan untuk berpendidikan tinggi. Justru, peran itu bisa menjadi bahan bakar semangat yang luar biasa. Seperti pesan narasi dalam video kisahnya:
“Lawan keterbatasan, patahkan sayap-sayap keraguan, sebab kita adalah para pejuang kehidupan,” pungkasnya.
- Kisah Tim Magna Energy Unhas Mengubah Wajah Energi Kepulauan
- Rahasia Dapur dari Kampus Biru, Menanam Harapan di Tengah Riuh Itik Kediri
- Membangun Karir Sejak Kuliah, Rahasia Lulusan “Siap Pakai” Tanpa Menunggu Wisuda
- Mengirim Kabut ke “Rumah” Jamur, Inovasi Cerdas Tim ITERA di Karang Anyar
- Menenun Harapan Lewat Kaki Prostetik Tutup Botol
- Perjuangan Dea Rodiah Lutfi, Lulus Kuliah 3,5 Tahun dengan IPK 3,90 Sambil Mengasuh Anak
