SuaraKampus.ID – Di tengah kepungan air yang merendam pemukiman warga di Sumatra, seorang pria dengan raut wajah tegas namun teduh tampak sibuk menurunkan kotak-kotak bantuan. Namanya Raed Arada. Bagi banyak orang, ia mungkin terlihat seperti relawan pada umumnya. Namun, ada kisah luar biasa di balik kehadirannya di tengah bencana itu: Raed adalah seorang putra Palestina yang sedang mencoba membalas cinta Indonesia.
Raed Arada bukan orang asing bagi bumi Lampung. Ia adalah alumnus Universitas Lampung (Unila) yang baru-baru ini menyelesaikan studi magisternya di Universitas Indonesia. Di saat tanah kelahirannya, Rafah dan Gaza, terus dirundung pilu akibat konflik berkepanjangan, Raed justru memilih untuk hadir di garis depan, membantu saudara-saudaranya di Indonesia yang tengah diterjang banjir bandang.
Dejavu di tengah genangan
Perjalanan Raed menyalurkan bantuan bukan tanpa rintangan. Bersama kawan-kawannya, ia harus menembus medan yang sulit. Akses jalan yang terputus, jaringan komunikasi yang nyaris nihil, hingga pemadaman listrik total menjadi menu harian selama mereka berada di lokasi bencana.
Bagi Raed, kondisi ini memicu ingatan yang menyakitkan. Gelapnya malam tanpa listrik dan sulitnya akses air bersih di Sumatra seketika membawanya kembali ke situasi di Gaza. Ia teringat keluarga dan kerabatnya di Palestina yang setiap hari harus bertahan hidup di bawah reruntuhan, tanpa harta, bahkan tanpa jaminan hari esok.
“Kasihan sekali,” ungkapnya lirih saat melihat warga Sumatra yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir. Kesamaan rasa kehilangan itulah yang membuat empatinya mengalir begitu deras. Baginya, rasa sakit kehilangan rumah adalah bahasa universal yang tidak butuh terjemahan.
Bentuk terima kasih untuk Indonesia
Aksi kemanusiaan Raed bukan sekadar gerakan spontan, melainkan wujud rasa syukur yang mendalam. Selama bertahun-tahun menempuh pendidikan di Indonesia—mulai dari jenjang Sarjana di Unila hingga Magister Teknik Elektro di UI—ia merasakan betapa besarnya dukungan masyarakat Indonesia terhadap perjuangan bangsanya.
“Kami semua peduli dan ingin membantu. Saya berharap mereka bisa kuat dan sabar menghadapi kesulitan ini,” ujarnya. Menurut Raed, Indonesia tidak pernah diam dalam mendukung rakyat Palestina. Kini, ketika sebagian wilayah Indonesia sedang berduka, ia merasa sudah saatnya ia berdiri tegak untuk membantu.
Langkah yang diambil Raed merupakan refleksi bagi kita semua. Bahwa kemanusiaan tidak memiliki batas paspor atau garis wilayah. Seorang yang negaranya sedang hancur lebur pun masih sempat memikirkan nasib orang lain di belahan bumi yang berbeda.
Mimpi untuk membangun kembali
Meski kini ia aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di Indonesia, hati Raed tetap tertambat pada tanah airnya. Sebagai ahli teknik elektro, ia menyimpan mimpi besar: kembali ke Gaza untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur jika kedamaian telah tiba. Ia ingin menjadi bagian dari organisasi Rebuild Gaza, memperbaiki jaringan listrik dan air yang menjadi urat nadi kehidupan.
Namun, sebelum mimpi besar itu terwujud, Sumatra menjadi saksi bisu dedikasinya. Kehadiran Raed Arada di tengah banjir Sumatra adalah pesan kuat bagi sivitas akademika dan masyarakat luas: bahwa pendidikan yang tinggi harus dibarengi dengan empati yang juga tinggi.
Melalui tangannya yang sigap menyalurkan bantuan, Raed seolah ingin berkata bahwa meski Gaza sedang gelap, ia ingin menjadi cahaya kecil bagi mereka yang sedang kedinginan di tengah banjir Sumatra. Sebuah bukti nyata bahwa solidaritas adalah jembatan yang tak bisa dihanyutkan oleh banjir sedalam apa pun.
- Kisah Tim Magna Energy Unhas Mengubah Wajah Energi Kepulauan
- Rahasia Dapur dari Kampus Biru, Menanam Harapan di Tengah Riuh Itik Kediri
- Membangun Karir Sejak Kuliah, Rahasia Lulusan “Siap Pakai” Tanpa Menunggu Wisuda
- Mengirim Kabut ke “Rumah” Jamur, Inovasi Cerdas Tim ITERA di Karang Anyar
- Menenun Harapan Lewat Kaki Prostetik Tutup Botol
- Perjuangan Dea Rodiah Lutfi, Lulus Kuliah 3,5 Tahun dengan IPK 3,90 Sambil Mengasuh Anak
